Minggu, 19 Juni 2011

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT MOLAHIDATIDOSA

I. PENDAHULUAN
Menurut Mansjoer, Arif, dkk (2001) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh villi kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik. Sedangkan menurut Mochtar, Rustam, dkk. (1998) Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. Penyebab molahidatidosa tidak diketahui secara pasti, namun faktor predisposisinya adalah faktor ovum, Imunoselektif dari tropoblast, keadaan sosio-ekonomi yang rendah, abnormalitas pada uterus, defisiensi nutrisi antara lain defisiensi protein, asam folat, dan gangguan peredaran darah rahim.
Tanda dan gejala dari penyakit molahidatidosa antara lain amenore dan tanda-tanda kehamila, perdarahan pervaginam berulang, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan, tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih, mual dan muntah berat. Setelah tanda dan gejala muncul jika tidak segera diobati akan menyebabkan akibat lanjut (komplikasi ). Adapun komplikasi dari penyakit molatihidosa adalah anemia, syok, infeksi, eklampsiadan tiroksitosikosis. (Mansjoer, Arif 2001; 267 )
Angka kematian ibu pada tahun 1994 di Indonesia tercatat 390 ibu per 100.000 kelahiran hidup sedangkan pada tahun 2003 sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu dengan kehamilan di Indonesia termasuk tinggi di Asia. Pada setiap 2 jam terdapat satu ibu yang meninggal karena melahirkan. Dari data diatas meskipun ada kecenderungan menurun, tapi angka kematian ibu (AKI) penduduk Indonesia masih relatif tinggi yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2003. Tingginya angka kematian ibu diantaranya disebabkan oleh beberapa faktor meliputi: perdarahan, toxemia gravidarum, dan infeksi. Salah satu dari ketiga faktor tersebut adalah perdarahan dan perdarahan dapat terjadi pada wanita dengan mola hidatidosa. Berdasarkan data tersebut, kelompok tertarik untuk membahas pada seminar ini tentang bagaimana Asuhan Keperawatan pada pasien dengan penyakit Molahidatidosa. ( www. Mola-hidatidosa. com).
II. LANDASAN TEORI
2.1. Defenisi
Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. (Mochtar, Rustam, dkk, 1998 : 23)
Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka, vaskularisasi dan edematus. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus, gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur. (Wiknjosastro, Hanifa, dkk, 2002 : 339)
Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh villi kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik.(Mansjoer, Arif, dkk, 2001 : 265)
Mola hidatidosa adalah kelainan villi chorialis yang terdiri dari berbagai tingkat proliferasi tropoblast dan edema stroma villi. (Jack A. Pritchard, dkk, 1991 : 514)
Mola hidatidosa adalah pembengkakan kistik, hidropik, daripada villi choriales, sdisertai proliperasi hiperplastik dan anaplastik epitel chorion. Tidak terbentuk fetus ( Soekojo, Saleh, 1973 : 325).
Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat, membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG) (Hamilton, C. Mary, 1995 : 104).
2.2 Anatomi
2.2.1 Uterus
Anatomi Uterus adalah organ yang tebal, berotot, berbentuk buah pear, terletak dalam rongga panggul kecil di antara kandung kemih dan anus, ototnya disebut miometrium dan selaput lendir yang melapisi bagian dalamnya disebut endometrium. Peritonium menutupi sebagian besar permukaan luar uterus, letak uterus sedikit anteflexi pada bagian lehernya dan anteversi (meliuk agak memutar ke depan) dengan fundusnya terletak di atas kandung kencing. Bagian bawah bersambung dengan vagina dan bagian atasnya tuba uterin masuk ke dalamnya. Ligamentum latum uteri dibentuk oleh dua lapisan peritoneum, di setiap sisi uterus terdapat ovarium dan tuba uterina. Panjang uterus 5 – 8 cm dengan berat 30 – 60 gram. (Verrals, Silvia, 2003 : 164).
Uterus terbagi atas 3 bagian yaitu :
a). Fundu :bagian lambung di atas muara tuba uterine
b). Badan uterus :melebar dari fundus ke serviks
c). Isthmus : terletak antara badan dan serviks
Bagian bawah serviks yang sempit pada uterus disebut serviks. Rongga serviks bersambung dengan rongga badan uterus melalui os interna (mulut interna) dan bersambung dengan rongga vagina melalui os eksterna.
Ligamentum pada uterus : ada dua buah kiri dan kanan. Berjalan melalui annulus inguinalis, profundus ke kanalis iguinalis. Setiap ligamen panjangnya 10 – 12,5 cm, terdiri atas jaringan ikat dan otot, berisi pembuluh darah dan ditutupi peritoneum.Peritoneum di antara kedua uterus dan kandung kencing di depannya, membentuk kantong utero-vesikuler. Di bagian belakang, peritoneum membungkus badan dan serviks uteri dan melebar ke bawah sampai fornix posterior vagina, selanjutnya melipat ke depan rectum dan membentuk ruang retri-vaginal.
Ligamentum latum uteri : Peritoneum yang menutupi uterus, di garis tengh badan uterus melebar ke lateral membentuk ligamentum lebar, di dalamnya terdapat tuba uterin, ovarium diikat pada bagian posterior ligamentum latum yang berisi darah dan saluran limfe untuk uterus maupun ovarium.
Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan sebutir ovum, sesudah keluar dari overium diantarkan melalui tuba uterin ke uterus (pembuahan ovum secara normal terjadi dalam tuba uterin) sewaktu hamil yang secara normal berlangsung selama 40 minggu, uterus bertambah besar, tapi dindingnya menjadi lebih tipis tetapi lebih kuat dan membesar sampai keluar pelvis, masuk ke dalam rongga abdomen pada masa fetus.Pada umumnya setiap kehamilan berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna. Tetapi dalm kenyataannya tidak selalu demikian. Sering kali perkembangan kehamilan mendapat gangguan. Demikian pula dengan penyakit trofoblast, pada hakekatnya merupakan kegagalan reproduksi. Di sini kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna, melainkan berkembang menjadi keadaan patologik yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan, berupa degenerasi hidrifik dari jonjot karion, sehingga menyerupai gelembung yang disebut ”mola hidatidosa”. Pada ummnya penderita ”mola hidatidosa akan menjadi baik kembali, tetapi ada diantaranya yang kemudian mengalami degenerasi keganasan yang berupa karsinoma.
(Wiknjosastro, Hanifa, 2002 : 339)

2.3 Penyebab / etiologi
Penyebab molahidatidosa tidak diketahui secara pasti, namun faktor predisposisinya adalah
1. Faktor ovum : kelainan ovum sehingga mati , tetapi terlambat dikeluarkan.
2. Imunoselektif dari tropoblast
3. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah
4. Abnormalitas pada uterus
5. Defisiensi nutrisi antara lain defisiensi protein, asam folat, karoten
6. Umur dibawah 20 tahun atau usia diatas 40 tahun : memiliki peningkatan resiko 7x dibanding perempuan yang lebih muda
7. Gangguan peredaran darah rahim

(Mochtar, Rustam ,1998 : 23)
2.4 Klasifikasi
1. Molahidatidosa Komplet ( MHK)
Merupakan kehamilan abnormal tanpa embrioyang seluruh vili korialisnya mengalami degenari hidropik yang menyerupai anggur. Mikroskopik tanpa edema stroma vili tanpa vaskularisasi disertai hyperplasia dari kedua lapisan trofoblas. Secara sitogenetik umumnya bersifat diploid 46 XX, sebagai hasil pembuahan satu ovum tidak berinti atau intinya tidak aktif, dibuahi oleh sperma yang mengandung 23 X kromosom, yang kemudian mengadakan duplikasi menjadi 46 XX. Jadi, umumnya MHK bersifat homozigot, wanita dan berasal dari bapak ( Androgenetik).
2. Molahidatidosa parsial ( MHP )
Seperti pada MHK, tetapi disini masih ditemukan embrio yang biasanya mati pada masa dini. Degenerasi hidropik dari vili bersifat setempat, dan yang mengalami hyperplasia hanya sinsitio tropoblas saja.
( Sastrawinata, Sulaiman. 2004 )
2.5 Manifestasi klinis
Adapun tanda dan gejala dari penyakit molahidatidosa adalah:
1. Amenore dan tanda-tanda kehamila.
2. Perdarahan pervaginam berulang. Darah cenderung berwarna coklat. Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola.
3. Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
4. Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih.
5. Mual dan muntah berat
6. Pembesaran perut melebihi usia kehamilan
7. Gejala-gejala hipertiroidisme ditemukan pada 10% kasus (denyut jantung yang cepat, gelisah, cemas, tidak tahan panas, penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya, tinja encer, tangan gemetar, kulit lebih hangat dan basah)
8. Gejala-gejala pre-eklamsi yang terjadi pada trimester I atau awal trimester II (tekanan darah tinggi, pembengkakan kaki-pergelangan kaki-tungkai, proteinuria).


(Mansjoer, Arif, dkk , 2001 : 266)

2.5 WOC (Terlampir)
2.6 Penatalaksanaan medis
Penanganan yang biasa dilakukan pada mola hidatidosa adalah :
1.Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis.
2. Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis.
Pada fasilitas kesehatan di mana sumber daya sangat terbatas, dapat dilakukan : Evaluasi klinik dengan fokus pada : Riwayat haid terakhir dan kehamilan Perdarahan tidak teratur atau spotting, pembesaran abnormal uterus, pelunakan serviks dan korpus uteri. Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin. Pastikan tidak ada janin (Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson.
3. Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera
4. Antisipasi komplikasi (krisis tiroid, perdarahan hebat atau perforasi uterus)
5. Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun.
9. Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml NaCl atau RL dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara tepat).
10. Pengosongan dengan Aspirasi Vakum lebih aman dari kuretase tajam. Bila sumber vakum adalah tabung manual, siapkan peralatan AVM minimal 3 set agar dapat digunakan secara bergantian hingga pengosongan kavum uteri selesai.
11. Selama pemantauan, pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin anak) atau tubektomy apabila ingin menghentikan fertilisasi.

( Manjoer, Arif dkk. 2001)
2.7 Penatalaksanaan keperawatan

2.8 Komplikasi
Adapun komplikasi dari penyakit molahidatidosa adalah:
a. Anemia
b. Syok
c. Infeksi
d. Eklampsia
e. Tiroksitosikosis
(Mansjoer, Arif 2001; 267 )
2.9 Pemeriksaan Penunjan g
a.Pemeriksaan kadar beta hCG : pada mola terdapat peningkatan kadar beta hCG darah atau urin
b.Uji Sonde : Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. Bila tidak ada tahanan, sonde diputar setelah ditarik sedikit, bila tetap tidak ada tahanan, kemungkinan mola (cara Acosta-Sison)
c.Foto rontgen abdomen : tidak terlihat tilang-tulang janini (pada kehamilan 3 – 4 bulan
d.Ultrasonografi : pada mola akan terlihat badai salju (snow flake pattern) dan tidak terlihat janin
e.Foto thoraks : pada mola ada gambaram emboli udara
f.Pemeriksaan T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis

( Mansjoer, Arif dkk, 2001 : 266)

2.10 Asuhan Keperawatan Teoritis
2.10.1 Pengkajian
1. Biodata
Identitas klien,nama,umur,jenis kelamin,no. MR.
Identitas penanggung jawab: nama,no.telp,hub dengan klien
2. Riwayat Kesehatan
A. Riwayat kesehatan sekarang (RKS)
Mengkaji apakah pasien mengalami Amenore dan tanda-tanda kehamila, perdarahan pervaginam berulang, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan dan tidak terabanya bagian janin pada palpasi.
B. Riwayat kesehatan keluarga (RKK)
Apakah penyakit molahidatidosa merupakan penyakit keturuanan dan. Apakah anggota keluarga pasien pernah menderita penyakit molahidatidosa.
C. Riwayat kesehatan dahulu (RKD)
Kaji apakah klien pernah mengalami defek pada ovarium, abnormalitas pada uterus dan defisiensi nutrisi antara lain defisiensi protein, asam folat, karoten.
D. Riwayat kesehatan reproduksi
Kaji tentang menorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya.
E. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas
Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya.
F. Riwayat seksual
Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya.
G. Riwayat pemakaian obat
Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat dan lainnya.
2.10.2 Pemeriksaan Fisik
1. Tanda-tanda vital
TD, Pernfasan, Nadi, Suhu
2. Kepala
a. Bentuk dan kebersihan kulit
b. Karak teristik rambut
c. Keluhan yang dirasa kan pada kepala apakah ada edema di kepala
3. Mata
a. Konjungtiva: apakah anemis kiri dan kanan
b. Reaksi terhadap cahaya:apakah reaksi positif/negative
c. Fungsi penglihatan: apakah normal/ terganggu
d. Rasa sakit:apakah terasa sakit saat penglihatan
e. Sklera: apakah ikterik kiri dan kanan
4. Hidung
a. Reaksi alergi: apakah terdapat reaksi alergi
b. Kesulitan dalam penciuman: apakah ada kesulitan dalam penciuman
c. Polip: apakah terdapat polip
5. Mulut,tenggorokan dan leher
a. Gigi:kebersihan gigi
b. Bentuk dan keadaan lidah: bagaimana bentuk lidah dan kebersihan lidah
c. Kesulitan menelan: apakah ada kesulitan untuk menelan
d. Mukosa bibir: apakah bibir klien tampak kering.
6. Paru
a. Inspeksi ; melihat pergerakan dada simetris atau tidak, Frekuensi pernafasan, bentuk dada dan apakah menggunakan otot bantu atau tidak.
b. Palpasi ; apakah fremitus taktil simetris kiri dan kanan
c. Perkusi ; apakah sonor atau hipersonor
d. Auskultasi ; bagaimana bunyi nafas dan apakah ada wheezing.
7. Jantung
a. Inspeksi : melihat denyut ictus kordis, untuk mengetahui denyut jantung dinding torak
b. Palpasi : untuk merasakan kan denyut iktus kordis dan apakah ada nyeri tekan atau tidak
c. Perkusi: untuk menentukan batas jantung baik kiri, kanan, atas dan bawah
d. Auskultasi ; mendegarkan bunyi jantung, apakah teratur atau tidak, apakah ada bunyi tambahan atau mur-mur
8. Abdomen
a. Inspeksi: apakah permukaan perutpda keadaan datar
b. Auskultasi: apakah ada terdapat suara bising usus
c. Palpasi:apakah ada nyeri tekan dan edema
d. Perkusi: apakah ada kembung atau disteri abdomen
9. Nutrisi
a. BB: bagai mana berat badan sebelum dan saat sakit
b. Apa Jenis diet yang diberikan
c. Nafsu makan: bagai mana nafsu makan klien
d. Intake cairan: bagai mana pemenuhan cairan
10. Eliminasi
a. BAB
a. Frekuensi: berapaka kali frekuensi BAB
b. Warna: bagaimana warna BAB
c. Keluhan saat BAB: apakah ada keluhan saat BAB

b. BAK
a. Frekuensi: berapa kali klien BAK/hari
b. Warna: bagai mana warna BAK klien
c. Kesulitan BAK: apakah dad kesulitan saat BAK
d. Alat bantu BAK: apakah menggunakan alat bantu
e. Keringat: apakah klien mengeluarkan keringat berlebihan
11. Genetalia dan anus
a. Palpasi: apakah terdapat benjolan (hemoroid)
b. Inspeksi:apakah terlihat membesar
12. Ekstramitas atas dn bawah
a. Ekstaramitas atas
a. Inspeksi:bagaimana pergerakan lengan dan kekuatan otot
b. Palpasi: apakah ada nyeri tekan atau benjolan
c. Motorik: mengamati besar dan bentuk otot
d. Reflek: memulai reflek fisiologi
e. Sensori: apakah dapat membedakan nyeri dan sentuhan
b. Ekstramitas bawah
a. Inspeksi: bagai mana pergerakan kaki
b. Palpasi:apakah ada nyeri dan benjolan
c. Motorik: mengamati besar dan bentuk otot
d. Reflek: memulai reflek fisiologi
e. Sensori: apakah dapat membedakan nyeri dan sentuhan

13. Integumen
a. Inspeksi ; Bagaimana warna kulit dan apakah terdapat bintik merah.
b. Palpasi ; Apakah turgor kulit lembab atau kering
2.10.3 Diagnosa Keperawatan

1. Kekurangan volume cairan b/d pendarahan.

2.10.4 Rencana Asuhan Keperawatan

No.
Dx. Keperawatan
Tujuan/ Kriteria Hasil Rencana Asuhan Keperawatan
Intervensi Rasional
1. Kekurangan volume cairan b/d pendarahan Tujuan ;
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2x24 jam diharapkan volume cairan adekuat.
Kriteria Hasil ;
• Cairan adekuat
• Intake dan output sama
Cairan seimbang Mandiri
1. Pantau tanda-tanda vital
2. Catat penigkatan suhu tubuh dan durasi demam


3. Timbang berat badan sesuai indikasi

4. Buat cairan mudah diberikan pada pasien
Gunakan cairan yang mudah ditoleransi oleh pasien
5. Pantau pemasukan oral dan masukan cairan
6. Anjurkan klien banyak minum
7. Kaji membrane mikosa kering, turgor kulit yang kurang baik dan rasa haus

Kolaborasi ;
Berikan cairan IV, misalnya albumin sesuai indikasi Mandiri ;
1. Indicator dari volume cairan sirkulasi
2. Meningkatkan kebutuhan metabolism diaphoresis yang berlabihan dihubungkan dengan demam dalam peningkatan kehilangan cairan.
3. Kehilangan cairan dapat menyebabkan krisis dan mengancam hidup.
4. Meningkatkan intake cairan



5. Mempertahankan keseimbangan cairan
6. Meningkatkan intake cairan.
7. Hipovolemia / cairan ruang ketiga akan memperkuat tanda-tanda dehidrasi.
Kolaborasi ;
Sejumlah besar cairan mungkin dibutuhkan untuk mengatasi hipovolemia relatif.
2. Peningkatan Suhu Tubuh Tujuan ;
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24 jam diharapkan suhu tubuh kembali normal.
Kriteria Hasil ;
• Suhu tubuh kembali normal yaitu 36,5 – 37,5 o C
• klien tidak merasakan muntah lagi.
• Intake dan output sama
Cairan seimbang Mandiri
1. Pantau suhu klien ( derajat dan pola ) ; perhatikan menggigil.
2. Pantau suhu lingkungan, batasi/ tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi
3. Berikan kompres mandi hangat
4. Hindari penggunaan alcohol


5. Sediakan selimut hangat pada saat-saat darurat

6. Anjurkan banyak minum.

Kolabolasi ;
Berikan antipiretik misalnya asparin (ASA ) atau asetaminofen Mandiri
1. Menunjukkan proses penyakit, pola demam dapat menentukan diagnosis.
2. Suhu ruangan / jumlah selimut harus di ubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal.
3. Dapat membantu mengurangi demam
4. Penggunaan alkohol mungkin menyebabkan kedinginan, penigkatan suhu secara aktual.
5. Anastesi, inhalasi akan menelan hipotalamus dan mengakibatkan kurang regulasi suhu tubuh
6. Diharapkan panas tubuh keluar melalui urin.

Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus.
3. Gangguan Rasa nyaman nyeri b/d distensi abdomen Tujuan ;
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2x24 jam diharapkan gangguan rasa nyaman nyeri teratasi.
Kriteria Hasil ;
• Melaporkan nyeri hilang
• Klien tampak rileks
• Klien mampu tidur / istirahat.
• TTV Normal
TD;
Sistolik =100-120
Diastolik =60-80
S = 36,5-37,5
N = 60 - 80
P= 16-22 x/ i Mandiri
1. Kaji skala nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitas ( skala dari 0-10 ). Selidiki dan laporkan perubahan karakteristik nyeri.

2. Jelaskan sebab-sebab nyeri
3. Dorong pasien untuk melaporkan nyeri.

4. Catat petunjuk non-verbal misalnya gelisah.


5. Kaji factor-faktor yang dapat meningkatkan dan menghilangkan nyeri.



6. Anjurkan klien untuk tidak cemas/ takut.


7. Anjurkan klien untuk menggunakan teknik pengalihan untuk menurunkan nyeri seperti teknik relaksasi nafas dalam.
8. Izinkan pasien untuk memulai posisi yang nyaman misalnya lutut fleksi.

9. Berikan tindakan nyaman seperti pijatan punggung, ubah posisi dan aktivitas senggang.

10. Bersihkan areal rektal dengan sabun ringan dan air setelah defekasi.
.
11. Observasi dan catat distensi abdomen, peningkatan suhu dan penurunan TD.

Kolaborasi ;
12. Lakukan modivikasi diet sesuai resepmisalnya memberikan cairan dan menigkatkan makanan padat sesuai toleransi
13. Berikan obat sesuai indikasi, seperti ;
Analgesik, Antikolinergik
Mandiri ;
1. Perubahan pada karakteristik nyeri dapat menunjukkan penyebaran penyakit atau terjadinya komplikasi.
2. Meningkatkan pengetahuan pasien
3. Mencoba untuk mentoleransi nyeri dari pada meminta analgesic
4. Bahasa tubuh / petunjuk non-verbal dapat secara psikologis dan fisiologik dan dapat digunakan pada hubungan petunjuk verbal untuk mengidentifikasi luas dan beratnya masalah.
5. Dapat menunjukkan dengan tepat pencetus atau factor pemberat ( seperti stress) atau mengidentifikasi terjadinya komplikasi.

6. Rasa cemas akan meningkatkan asam lambung dan meningkatkan nyeri

7. Teknik pengalihan rasa nyeri berperan untuk menurunkan sensasi nyeri.

8. Menurunkan tegangan abdomen dan meningkatkan rasa control.

9. Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian dan meningkatkan kemampuan koping
10. Melindungi kulit dari asam usus


11. Dapat menunjukkan terjadinya obstruksi usus karena inflamasi.

Kolaborasi ;
12. Istirahat usus penuh dapat menurunkan nyeri.


13. Nyeri berfariasi dari ringan sampai berat dan perlu penanganan untuk memudahkan istirahat adekuat dan penyembuhan.


III. PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Menurut Mansjoer, Arif, dkk (2001) Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh villi kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik. Penyebab molahidatidosa tidak diketahui secara pasti, namun faktor predisposisinya antara lain Imunoselektif dari tropoblast, keadaan sosio-ekonomi yang rendah, abnormalitas pada uterus, defisiensi nutrisi antara lain defisiensi protein, asam folat, dan gangguan peredaran darah rahim.
Tanda dan gejala dari penyakit molahidatidosa antara lain amenore dan tanda-tanda kehamila, perdarahan pervaginam berulang, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan, tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih, mual dan muntah berat. Setelah tanda dan gejala muncul jika tidak segera diobati akan menyebabkan akibat lanjut (komplikasi ). Adapun komplikasi dari penyakit molatihidosa adalah anemia, syok, infeksi, eklampsiadan tiroksitosikosis. (Mansjoer, Arif 2001; 267 )
Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan penyakit molahidatidosa yaitu Kekurangan volume cairan, Peningkatan suhu tubuh dan Gangguan Rasa Nyaman Nyeri. Dan diagnosa prioritas yang dapat diangkat untuk apendisitis adalah “ Kekurangan volume cairan “
3.2 Saran
3.2.1 Bagi STIKes Dharma Landbouw
Diharapkan makalah ini dapat digunakan sebagai bahan bacaan di perpustakaan STIKes Dharma Landbouw Padang, bagi mahasiswa prodi D3 Kebidanan, D3 PIKES dan S1 Keperawatan. Sehingga menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa.
3.2.2 Bagi Mahasiswa
Diharapkan setelah melakukan presentasi makalah ini dapat menambah wawasan mahasiswa dan dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan dilapangan tentang penyakit molahidatidosa.


DAFTAR PUSTAKA

A. Aziz alimul Hidayat. 2004. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta ; EGC
Doengeoes EM, Marlynn. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta ; EGC
Mansjoer Arif, dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta ; FKUI
Nettina. M. Sandra. 2001. Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta ; EGC
Sudoyo. W. Aru, dkk.1999. Buku Ajar Penyakit Dalam. Jakarta ; FKUI
Carpenito, Lynda.2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta : EGC
Hamilton, C. Mary. 1995. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, edisi 6. Jakarta : EGC
Soekojo, Saleh. 1973. Patologi, UI Patologi Anatomik. Jakarta: FKUI
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri, Jilid I. Jakarta: EGC
Johnson & Taylor. 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta: EGC
www. Mola-hidatidosa. Com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar